Memaknai Penuh Ibadah Puasa

Secara fikih, kegiatan berpuasa dibatasi antara saat sahur sampai berbuka. Pada batas waktu itulah orang Islam yang beriman diwajibkan untuk menjaga puasanya. Yaitu tidak makan, minum, berhubungan badan dan hal lain yang membatalkannya. Setelah berbuka, maka puasanya, secara fikih, selesai. Boleh makan, minum dan berhubungan badan.

Antara sahur dan berbuka ini sering disadari betul sebagai batas waktu puasa. Sedang antara berbuka sampai sahur dipahami sebagai batas waktu untuk melakukan hal-hal yang dibolehkan yang sebelumnya tidak dibolehkan itu. Pada waktu kita masih kanak-kanak, itulah yang terpancang betul dalam kesadaran dan ingatan.

Pada waktu masih kanak-kanak, sehabis sahur, khususnya sehabis Subuh, sampai sebelum masuk waktu Maghrib, diberi makna sebagai waktu untuk berlapar-lapar dan berhaus-haus. Karena tahu, kalau waktu Mahgrib adalah batas dia boleh makan dan minum lagi, banyak di antara anak-anak yang mulai Dhuhur sudah mulai menghimpun makanan dan jajanan dan makin mendekati Maghrib himpunan makanan dan minuman ini makin banyak. Begitu tanda masuk waktu Maghrib semua gembira. Himpunan makanaan dan minuman pun diserbu, kalau perlu sampai habis. Akibatnya, sehabis berbuka, perut mengeras kekenyangan, menjadikan sang anak malas shalat tarawih. Kalau ingat masa kanak-kanak kita yang semacam itu sekarang kita bisa tertawa dan merasa lucu. Sebab kita sadar, kalau itu boleh disebut sebagai puasa balas dendam. Siang puasa, malam makan sepuasnya.

Setelah besar, kesadaran kita bertambah. Kita diajari bahwa yang disebut puasa itu sesugnguhnya tidak terbatas pada menahan lapar, haus dan hal yang bersifat jasmani belaka. Secara ruhani, kita juga harus berpuasa mengiringi puasa jasmani kita. Jadi seiring dengan menahan lapar dan haus dan hal yang bersifat jasmani lain, kita perlu juga menahan amarah, menahan ri hati, menahan omongan yang kotor menahan nafsu untuk bergunjing atau memaki orang lain. Pendeknya, segala perilaku buruk, terhadap diri sendiri dan terhadap orang lain harus juga ditahan agar puasa kita tidak hilang pahalanya.

Setelah makin besar dan mulai memasuki usia dewasa menuju tua, kesadaran kita makin meluas dan kedalaman ilmu dan amal keagamaan kita juga makin lengkap. Kita menjadi tahu yang disebut puasa itu itu tata kalanya tidak terbatas setiap hari, dan terbatas antara sahur dan berbuka saja. Antara berbuka sampai sahur pun termasuk dalam rangkaian puasa. Dan ini lamanya adalah sebulan,. Maka disebut sebagai bulan puasa atau bulan Ramadlan. Sebulan itu siang malam terus menerus adalah momentum puasa Ramadlan. Sikap kita pun dianjurkan agar positif dan produktif. Kita tidak lagi takut dosa atau takut batal puasanya karena sehabis Subuh sampai Maghrib kia dilarang melanggar hal-hal yang menyebabkan batalnya puasa, tetapi kita sudah sampai pada tahan kesadaran bahwa selama sebulan Ramadlan itu, kita perlu mengisinya dengan berbagai amal ibadah dan amal sosial agar puasa kita menjadi makin bermakna.

Amal sederhana yang masih berdekatan dengan rasa lapar adalah memberi takjil kepada orang yang berpuasa. Amal yang berdekatan dengan upaya menahan nafsu adalah dengan memberi nasihat atau pengajian tentang keutamaan berpuasa. Amal yang berdekatan dengan peningkatan kualitas ibadah kita di sepanjang bulan puasa adalah dengan melakukan shalat tarawih, bertadarus Al Qur’an, memberi sedekah, menggembirakan orang miskin, anak yatim piatu, para janda tua yang kekurangan, dan beriktikaf secara sungguh-sungguh. Semua ini dapat menjadi perantara atau perlengkapan proses menuju ke makin taqwa. Taqwa yang produktif karena jalur habluminallah dan habluminannas kita penuhi dengan amal ibadah dan amal sosial yang bermakna.

Kalau selama sebulan, dalam bulan Ramadlan dapat kita beri makna secara penuh seperti itu, kita akan merasakan bagaimana Allah SwT sungguh Maha Pendidik dan Maha Pemurah. Kita akan merasa dididik dan dibimbing oleh melewati jalan yang indah menjadi manusia taqwa, yang lebih baik dan lebih berkualitas dibanding sebelum bulan puasa Ramadlan tiba. Inilah kenikmatan tertinggi sebagai orang Islam dan orang beriman.

Pengalaman beragama yang indah dan bermakna selama bulan puasa Ramadlan yang nikmatnya sangat berkualitas inilah yang menyebabkan Nabi Muhammad dan para sahabatnya dulu sangat merindukan datangnya bulan Ramadlan. Dan ketika memasuki bulan Ramadlan, lebih-lebih ketika tanggal-tanggal akhir, banyak di antara mereka yang menangis karena takut kalau tahun depannya tidak bertemu lagi dengan bulan Ramadlan.

 

Kalau sudah demikian, artinya dan maknanya, kehadiran puasa Ramadlan sesungguhnya telah hadir bukan sekadar satu bulan, tetapi hadir di setiap hari di sepanjang tahun hidup mereka. Untuk meredakan kerinduan pada bulan Ramadlan, kebanyakan dari para sahabat akan menjalankan puasa sunnah Senin Kamis, puasa setiap tanggal 13,14 15 bulan Qomariyah, puasa Daud, kalau malam menjalankan shalat lail, dan memperbanyak membaca Al Qur’an. Mereka juga banyak yang beramal sosial setiap hari, seolah-olah hari-hari yang mereka lewati adalah hari di bulan Ramadlan. Bisakah kita meniru mereka?•(Mustofa W Hasyim)

 

Download Buletin

 

Facebook Comments