DUA SISI MATA UANG YANG TAK TERPISAHKAN

Ya Allah mengapa engkau hidangkan sayap-sayap patah kepada hamba. Hingga diri ini sangat amat lemah untuk terbang meraih mimpi-mimpi yang begitu indah. Diri ini benar-benar terpuruk dalam kubangan penyesalan, hingga jiwaku terlalu lama tenggelam dalam ribuan pertanyaan tentang kehidupan. Ku tengok tiap orang yang meraih kebahagiaan dengan mudah dan indah, betapa iri diri ini ingin merasakan hal yang sama. Tapi, iri itu enyah ketika seorang sang sahabat pena berkata “Mungkin bukan saat ini engkau bahagia, tapi suatu saat Allah memberikan kebahagiaan tiada tara bagimu. Bersabarlah! Allah Maha Baik kog”. Kata itu yang selalu terpatri dalam setiap keyakinanku ketika diri ini gagal, galau dan putus asa hanya kata-kata tersebut yang segera menyergapku kemudian membawaku dalam sebuah ketenangan.

Ku lihat rembulan hanya diam tak bersuara ketika ingin kusampaikan kata sesal yang terdalam saat kupersalahkan rembulan yang harus muncul ketika diri ini belum mau sang malam menjelang. Di sebuah ruangan di atas dipan kayu dengan alas tikar, tetesan air penyesalan berlomba-lomba keluar dari sarangnya. Tetesan sebuah penyesalan yang akan selalu terkenang dalam setiap lamunan di tidur panjang seorang insan. Sesal itu tetap berjogok dalam rasa penghidupan untuk meraih sebuah kesuksesan. Tapi, gagal itu selalu saja finish pertama untuk menyapa diriku yang sedang berjuang. Sementara keberhasilan dengan langkah tertatih menyempurnakan finish keduanya ketika diri ini sudah berjibaku dengan sang kegagalan.

Perjuangan untuk meredam sebuah penyesalan itu sulit, karena kesempatan yang sama itu tak pasti datang dalam dua waktu yang berbeda. Walaupun di setiap qiyamul lail semua do’a telah tercurahkan dengan di iringi mata yang berembun dan pipi sembab merah. Kesempatan untuk berhasil itu belum pernah menghampiriku. Mungkin suatu saat keberhasilan itu akan menghampiriku dengan senyum dan semangatnya yang membara. Amin.

 

 

by : Ipmawan Sukamto

Facebook Comments